Saat itu... kami menjadi teman dekat
kami selalu pulang bersama
walaupun dia hanya sampai seperdelapan jalan
tapi aku senang bisa pulang bersamanya
dia pun mulai memanggilku dengan panggilan baru
"Ia" itulah panggilanku darinya
ntah kenapa aku begitu senang mendapat panggilan itu
walaupun aku tau itu panggilan saat aku kecil.
Di kelas kami kadang menonton anime bersama
kami pun selalu jadi teman satu kelompok.
Dia selalu menungguku dengan sepenuh hati walaupun aku tak minta
Dia selalu mendengarkan masalah apapun yang menimpaku di kelas
aku berfikir aku ingin selalu bersamanya,aku nyaman dengannya
sampai satu hari aku memutuskan
..... aku menyukainya
tapi lama kelamaan dia mulai berubah
sejak insiden matematika itu
Kami hanya bisa pulang bersama jika aku meminta
Ia hanya bisa menungguku jika aku memohon
Hanya paksaanlah yang mampu membuatnya tak beranjak
gaya bicaranya pun menjadi meninggi dan menyebalkan
bermain game dan pura-pura tak mendengar apa yang kuucapkan
mulai tidak peduli teman satu kelompoknya
dan tak pernah peduli lagi kepadaku
dalam kelompok jika berada dalam pilihan, dia selalu mengatakan kepadaku dengan nada biasa namun penuh penekanan
"KAMU KAN DECISION MAKERNYA, JADI TERSERAH KAMU!"
entah kenapa tapi aku benci kalimat itu.....
padahal dulu dia tidak pernah mengatakan itu
hingga suatu hari aku putuskan
.....aku benci dia
kami selalu pulang bersama
walaupun dia hanya sampai seperdelapan jalan
tapi aku senang bisa pulang bersamanya
dia pun mulai memanggilku dengan panggilan baru
"Ia" itulah panggilanku darinya
ntah kenapa aku begitu senang mendapat panggilan itu
walaupun aku tau itu panggilan saat aku kecil.
Di kelas kami kadang menonton anime bersama
kami pun selalu jadi teman satu kelompok.
Dia selalu menungguku dengan sepenuh hati walaupun aku tak minta
Dia selalu mendengarkan masalah apapun yang menimpaku di kelas
aku berfikir aku ingin selalu bersamanya,aku nyaman dengannya
sampai satu hari aku memutuskan
..... aku menyukainya
tapi lama kelamaan dia mulai berubah
sejak insiden matematika itu
Kami hanya bisa pulang bersama jika aku meminta
Ia hanya bisa menungguku jika aku memohon
Hanya paksaanlah yang mampu membuatnya tak beranjak
gaya bicaranya pun menjadi meninggi dan menyebalkan
bermain game dan pura-pura tak mendengar apa yang kuucapkan
mulai tidak peduli teman satu kelompoknya
dan tak pernah peduli lagi kepadaku
dalam kelompok jika berada dalam pilihan, dia selalu mengatakan kepadaku dengan nada biasa namun penuh penekanan
"KAMU KAN DECISION MAKERNYA, JADI TERSERAH KAMU!"
entah kenapa tapi aku benci kalimat itu.....
padahal dulu dia tidak pernah mengatakan itu
hingga suatu hari aku putuskan
.....aku benci dia
Kenapa aku bisa memutuskan seperti itu?
Karena aku decision maker nya
Komentar
Posting Komentar