Dia adalah sebuah lilin kecil
Menyala dengan semangat api mungil
Membakar raganya tetap hidup
Dia adalah sebuah lilin kecil
Mungkin sinarnya kalah oleh mentari
Tapi saat semuanya hilang dia pastikan nyalanya ada
Menyala dengan semangat api mungil
Membakar raganya tetap hidup
Dia adalah sebuah lilin kecil
Mungkin sinarnya kalah oleh mentari
Tapi saat semuanya hilang dia pastikan nyalanya ada
Namanya Iryan, Dia adalah lelaki
tujuh belas tahun dengan seragam putih abunya yang sekarang merupakan tahun
terakhirnya di sekolah ini.
Tiga tahun kurang aktif menjadi anggota klub sekolah. Setidaknya sebagai pelajar Iryan sudah memanfaatkan program ekstrakurikuler dengan baik dan mengambil banyak pengalaman dari klub tersebut. Iryan adalah seorang siswa biasa yang menjadi wakil ketua sebuah klub. Kini kesibukannya adalah bersanding dengan kata persiapan.Persiapan ujian, persiapan kuliah, dan dalam rentang waktu dekat ini adalah persiapan kaderisasi penerusnya di klub itu. Persiapan ini memakan waktu dan secara tak sadar waktu pun memakan Iryan. Iryan menghabiskan 2 bulan pertama untuk menyiapkan segala persiapan untuk kaderisasi semampu yang ia bisa. Ia bekerja sendiri dan bertanggung jawab sepenuhnya atas kaderisasi ini.
Tiga tahun kurang aktif menjadi anggota klub sekolah. Setidaknya sebagai pelajar Iryan sudah memanfaatkan program ekstrakurikuler dengan baik dan mengambil banyak pengalaman dari klub tersebut. Iryan adalah seorang siswa biasa yang menjadi wakil ketua sebuah klub. Kini kesibukannya adalah bersanding dengan kata persiapan.Persiapan ujian, persiapan kuliah, dan dalam rentang waktu dekat ini adalah persiapan kaderisasi penerusnya di klub itu. Persiapan ini memakan waktu dan secara tak sadar waktu pun memakan Iryan. Iryan menghabiskan 2 bulan pertama untuk menyiapkan segala persiapan untuk kaderisasi semampu yang ia bisa. Ia bekerja sendiri dan bertanggung jawab sepenuhnya atas kaderisasi ini.
“Lho, Iryan kan wakil ketua? kenapa dia yang
tanggung jawab sepenuhnya? Kenapa bukan ketua?”
Itulah pertanyaan yang sering sekali diajukan
pada Iryan. Iryan hanya membalasnya dengan senyuman yang kutahu di dalam
hatinya terasa melelahkan. Pertanyaan yang begitu polos bagi orang yang mengetahui
keadaan sebenarnya. Ya... Ketua klub itu
menghilang dan bisa disebut meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ketua. Yang
terakhir kutahu, Iryan begitu dekat dengan ketua itu. Ketua itu adalah seorang
gadis setahun lebih tua dari Iryan, ia bernama Clyra. Clyra adalah gadis
periang dan selalu bersemangat, aku sendiri bahkan mengaguminya. Namun semuanya
berubah saat Clyra mulai jarang terlihat lagi di sekolah. Kabarnya ia sakit,tapi
itu baru awal. Lama kelamaan kabarnya mulai tak jelas, mungkin bisa dibilang
“menghilang” sampai akhirnya kudengar, Clyra telah angkat kaki ke Lampung dan
tidak akan kembali entah sampai kapan.
Aku disini hanyalah seorang adik kelas yang cukup dekat dengan Iryan dan tak berpengaruh besar untuk klub itu. Akan tetapi, kepergian Clyra berpengaruh besar bagi klub itu terutama bagi Iryan, karena secara tidak langsung ini adalah beban bagi Iryan untuk menjadi pangganti Clyra. Pernah satu waktu Iryan mengajak anggota anggotanya untuk ikut membantunya bertanggung jawab. Tapi apa daya semua anggotannya beranggapan bahwa Iryan lah yang lebih pantas untuk bertanggung jawab menggantikan Clyra. Teman teman Iryan berhamburan entah ke mana, selepas event besar yang memakan banyak tenaga. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap adik kelasnya?
Aku disini hanyalah seorang adik kelas yang cukup dekat dengan Iryan dan tak berpengaruh besar untuk klub itu. Akan tetapi, kepergian Clyra berpengaruh besar bagi klub itu terutama bagi Iryan, karena secara tidak langsung ini adalah beban bagi Iryan untuk menjadi pangganti Clyra. Pernah satu waktu Iryan mengajak anggota anggotanya untuk ikut membantunya bertanggung jawab. Tapi apa daya semua anggotannya beranggapan bahwa Iryan lah yang lebih pantas untuk bertanggung jawab menggantikan Clyra. Teman teman Iryan berhamburan entah ke mana, selepas event besar yang memakan banyak tenaga. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap adik kelasnya?
Adik kelasnya adalah motivasinya. Ia ingin yang terbaik
untuk adik kelasnya. Walaupun begitu, sebenarnya ada motivasi lain dibalik adik
kelasnya yakni Iryan menyukai Clyra. Rasa sayang Iryan terhadap Clyra
memberikan semangat tersendiri bagi Iryan. Ia bahkan pernah menyatakan perasaan
itu di hari Clyra berangkat ke Lampung. Akan tetapi, motivasi itu tidak bertahan
lama. Karena perasaan itu semakin lama semakin pudar. Bahkan disaat Iryan
emosi, ia terkadang selalu menyebut nyebut nama Clyra dan menyalahkannya.
“Ah...Kenapa sih
Clyra harus pergi?”
Kalimat
itulah yang selalu aku dengar dari Iryan ketika ia kesal.
“Gara-gara Clyra, aku jadi seperti
ini!”
Itulah
kata kata yang kerap kali diucapkan ketika Iryan mulai lelah dengan semua
tanggung jawab ini. Tapi apa daya, semuanya tak ada yang peduli. Semuanya tidak
berani mengambil tanggung jawab dengan alasan takut menghancurkan. Mungkin tidak masalah baginya untuk mengambil
tanggung jawab ini, Ia masih punya motivasi yang kuat agar Ia tetap semangat
menanggung beban ini. Ia mencintai Clyra. Itulah motivasinya sampai saat ini.
“Iryan..,”
Panggilku suatu siang seusai kegiatan klub. Ia melangkah belum terlalu jauh.
Dengan ragu ia menoleh, seperti menjawab “ada apa?”. Aku berlari kecil
mendekatinya, lalu sama-sama berjalan.
“Uhm..,”
Aku terdiam beberapa saat, bingung dengan apa yang hendak aku sampaikan.“Anu.. Iryan..
apa kamu.. merasa terbebani dengan kami semua?” Pertanyaan itu meluncur dengan
lancar, seperti baru saja kuolesi oli. Aku sempat berdebat keras dengan hatiku
mengenai hal ini. Aku takut pertanyaanku ini malah membuatnya semakin susah,
aku takut Iryan malah jadi memikirkan tentang ini.
Kami
berdua masih berjalan dalam diam. Tidak lewat beberapa detik, Iryan mendengus
dan terkekeh, membuatku bingung.
“Kenapa
kamu berfikir seperti itu? Apa kamu berfikir aku keberatan dengan semua ini?”
Ia malah balik bertanya.
“Bu..
bukan itu. Aku cuman..” Aku menjawab pelan. Kami sama-sama terdiam. Dan
pertanyaanku tadi masih belum dijawab.
“Mungkin,”
Kata Iryan kemudian.
“Eh?
Itu jawaban pertanyaanku tadi, atau apa?”
“Iya,
itu jawabanku. Mungkin..., ga sih! Kadang, aku meragukan diriku sendiri dan
bertanya apa aku bisa memikul ‘beban’ ini. Tapi kemudian pikiran itu hilang
saat bayangan kalian semua terbesit dibenakku. Untuk sejenak aku merasa
keberatan. Tapi itu bukan karena kalian kok. Ini karena aku sendiri. Justru,
kalianlah yang membuatku tetap kuat. Kamu pasti sudah tahu itu,”
Aku
tercenung mendengarkan kalimat Iryan.
Pemakaian hati dan emosi telah Iryan gunakan seminimal
mungkin, dan sepertinya limit stressnya
juga sudah hancur kelibas. Entah
kenapa aku jadi merasa marah pada Clyra. Aku bingung,
kalau memang Clyra tak sanggup, kenapa dia menyanggupi untuk menjadi ketua? Ini
sama saja.., membuat Iryan kesulitan.
***
Dia
adalah sebuah lilin kecil
Mungkin dia padam oleh tiupan angin kencang
Tapi dia percaya ada yang akan menyalakannya kembali
Dia adalah sebuah lilin kecil
Berjuang menyala bersama waktu
Hingga habis nyala sumbunya
Mungkin dia padam oleh tiupan angin kencang
Tapi dia percaya ada yang akan menyalakannya kembali
Dia adalah sebuah lilin kecil
Berjuang menyala bersama waktu
Hingga habis nyala sumbunya
Suatu hari, aku menemukan Iryan tengah duduk bersender
pada tasnya yang tebal, sambil menatap langit biru penuh awan dengan sedikit
goresan jingga, seperti memikirkan sesuatu. Apakah ia mulai mempertanyakan
tanggung jawabnya? Atau ia memikirkan bagaimana kaderisasi kedepannya? Ataukah
ia memikirkan masa lalunya dengan Clyra? Hal itu membuatku bertanya tanya dan
semakin penasaran.
“Iryan! Ngapain?”
“Iryan! Ngapain?”
“Iseng memandangi langit” jawab Iryan dengan nada datar
dan humornya
“Ah... Iryan, jangan sok sok an dramatis kaya di film
film deh. Iryan kenapa?” tanyaku.
“Ngga kenapa-napa. kamu?”
“Aku? Aku ga kenapa kenapa. Aku baru dateng dan liat kamu
trus nanya deh. Udah,” jawabku sederhana.
“Rasanya aku kangen Clyra deh” Ucapnya tiba-tiba.
“Hee....”
Kata kata itu kadang tak sengaja keluar dari mulut Iryan.
Mungkin sebenarnya Iryan masih menyukainya, namun saat ini sepertinya rasa
kesal terhadap Clyra menjadi lebih besar dibanding rasa sukanya.
Pernah suatu hari kedua lengan Iryan tiba tiba melingkari
tubuhku, itu terjadi satu hari setelah Clyra pergi. Aku shock saat Iryan
melakukannya, walaupun hanya sekejap mata. Awalnya kupikir karena itu adalah
pelampiasannya terhadap Clyra, tapi tenyata bukan. Entah apa.
Saat
itu aku menangis karena kepergian Clyra. Dan beberapa saat setelah pelukan Iryan
terjadi, aku bertanya padanya.
“Iryan!
Kenapa kamu memelukku seperti itu..?” Tanyaku heran.
“Hah?
Oh... kamu.. punya seseorang yang disuka?”
“Punya,”
Jawabku tegas.
“Oh..
kalo gitu... anggap aku ayah kamu. Soal meluk kamu itu.., kamu tadi nangis sih.
Biasanya orang yang lagi sedih butuh pelukan, kan?”
Sekarang ini aku hanya menerka. Aku menghargai Iryan yang
berusaha tetap membuatku bersemangat dan tidak sedih. Namun aku menyadari
sesuatu.
Biasanya orang yang lagi sedih
butuh pelukan, kan?
Iryan
memelukku karena saat itu aku sedang sedih. Tapi yang sebenarnya paling sedih,
adalah Iryan. Dan Iryan-lah yang sebenarnya membutuhkan pelukan. Mungkin itulah
sebab mengapa ‘pelukan’ itu terjadi.
Emosi
Iryan yang tertahan, seketika meluap saat melihat aku menangis. Aku semakin
mengerti seberapa dalam perasaan Iryan pada Clyra.
***
Kembali ke kesibukan Iryan saat ini. Hari ini
kesibukannya seperti biasa, kesibukan yang membuatnya berada lama di sekolah
menghabiskan waktu hanya untuk menunggu. Bukan menunggu seseorang, tapi
menunggu sekumpulan orang. Lama kelamaan Iryan mulai bosan dan kesal dengan
menunggu. Hari ini Iryan entah kenapa aku lihat Iryan uring uringan.
“Aku itu udah kelas tiga, harusnya udah fokus ujian.
Mending aku lepas tangan aja semua sekarang. Lelah kalo gini terus!” bentaknya.
Iryan
membantingkan tas dan jaketnya ke lantai dan muka Iryan merah padam. Aku tak
pernah melihatnya seperti itu.
Aku mencoba untuk kuat melihatnya tapi apa daya... aku benar benar tak kuat lagi melihatnya. Aku pun pergi meninggalkan Iryan tetapi dengan niat aku akan kembali setengah jam lagi.
Setengah jam itu kupakai untuk mengalirkan semua air yg telah menggenang di bawah kelopak mataku. Aku sedih melihat Iryan seperti itu. Aku kesal aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sedih sudah membuatnya menunggu. Tapi aku mencoba kuat dan kuat. Yasudah... mungkin esok akan jadi lebih baik.
Aku mencoba untuk kuat melihatnya tapi apa daya... aku benar benar tak kuat lagi melihatnya. Aku pun pergi meninggalkan Iryan tetapi dengan niat aku akan kembali setengah jam lagi.
Setengah jam itu kupakai untuk mengalirkan semua air yg telah menggenang di bawah kelopak mataku. Aku sedih melihat Iryan seperti itu. Aku kesal aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sedih sudah membuatnya menunggu. Tapi aku mencoba kuat dan kuat. Yasudah... mungkin esok akan jadi lebih baik.
***
Esok adalah hari berharga. Esok
kaderisasi pertama dimulai. Kaderisasi ini sangat penting bagi Iryan, karena
ini adalah bentuk pengabdian Iryan pada sekolah. Klub di sekolah seperti klub
yang ia pegang berfungsi melatih keterampilan, pola pikir, soft skills, dan beragam ilmu yang tidak biasanya didapatkan dalam
kelas. Mungkin menurut beberapa orang klub ekstrakurikuler tidak terlalu
penting. Akan tetapi Iryan termasuk orang yang tidak setuju dengan itu. Apakah
semua ini mudah? Tentu saja tidak, Iryan bertanggung jawab walaupun tidak
secara langsung mendidik adik kelasnya untuk bisa terampil, berpikiran luas,
dan bersosialisasi dengan orang lain.
Menurutnya, adik-adik kelasnya
adalah sekumpulan orang-orang paling hebat, paling dekat, dan paling ia
sayangi. Akan tetapi, mereka belum banyak berpengalaman. Mereka siap dengan
potensi, hanya butuh diberi masukan ilmu dan tata cara yang benar agar bisa
bekerja sama dengan profesional sebagai sebuah organisasi. Ia sadar salah satu
alasannya ialah angkatannya tidak memberi adik-adik kelasnya bekal yang cukup
dan menjaga mereka dengan baik. Hanya dengan waktu yang sedikit ini ia ingin
memberikan sesuatu pada mereka
Bagaimana
caranya mendidik adik-adik kelasku agar siap untuk satu tahun kedepan?
Seperti kebanyakan masalah yang
dialami klub ekstrakurikuler, Angkatannya tidak terlalu baik dan banyak konflik
terjadi. Iryan sadar angkatannya tidak dapat memberi banyak kepada
adik-adiknya. Angkatannya sendiri pun tidak dapat bekal yang banyak dari kakak
kelas terdahulunya. Akan tetapi tidak mungkin bila harus terulang lagi.
Angkatannya tercerai-berai menghilang satu-persatu, ketuanya pergi, dan Iryan
mau tidak mau harus maju menggantikan ketua. Parahnya, hampir semua catatan
mengenai tugas, program kerja, dan hal-hal yang telah dicapai selama ini belum
pernah sampai padanya. Lagi-lagi Iryan terpaksa membuat sistem kerja baru yang
bertumpu pada dirinya sendiri. Ia tidak mau adik kelasnya mengalami hal yang
sama. Ia siap menjadikan angkatannya batu loncatan untuk perubahan yang lebih
baik bagi penerusnya. Ini adalah sedikit dari yang bisa ia lakukan di tahun
terakhirnya.
Mungkin semua ini hanyalah keinginannya
sendiri. Tidak semua teman seangkatannya mungkin sejalan dengannya, walaupun
sejalan, beban kelulusan membuat mereka tidak bisa ikut terlalu banyak.
Walaupun sebenarnya Iryan pun memiliki beban yang sama, hari demi hari tugas
mendidik penerus baru ia lakukan sedikit demi sedikit. Tentu saja tidak
dilakukan sendiri, tetap ada sebagian temannya yang masih aktif membantu
menyumbang ide, yang lain hanya datang untuk menengok dan menanyakan kabar.
Beruntung bila bisa rapat, berkumpul bersama, saling tukar pendapat, dan berbagi
tugas untuk meringankan bebannya. Tidak ada yang bisa disalahkan, tidak ada
pihak yang salah. Hanya memang seperti inilah kondisinya sekarang, inilah jalan
yang ada sekarang untuknya.
***
Hari ini hari berharga. Kegiatan utamanya dimulai hari ini,
ini adalah pertemuan pertama adik kelasnya menjalani kaderisasinya. Iryan
menyuguhkan beberapa materi peraknya tentang sejarah klub itu dan beberapa hal general tentang klub itu. Selain itu Iryan
menyampaikan materi emasnya yakni tentang kekeluargaan.
Kekeluargaan itu
penting. Setiap orang memiliki peran dalam sebuah keluarga. Satu syarat sebuah
keluarga adalah apapapun yang terjadi dan seburuk apapun yang terjadi, keluarga
tak akan meninggalkanmu. Tetaplah berkomunikasi dengannya.
Semuanya lancar bahkan adik kelasnyanya pun tampak bahagia.
Tampak semburat senyuman dalam wajah Iryan, mungkin dia senang melihat adik
adik kelasnya mulai tumbuh berkembang. Hari ini berakhir dengan sekantung penuh
kesan dan pesan.
“Kenapa senyum?” Seruku kepada Iryan saat melihat Iryan
berdiri memandangi adik kelasnya. Ia tersenyum dengan tidak biasa.
“Ah.. ngga ko,” Ia malah menjawab sambil menahan senyum.
“Hayo! kenapa?”
Tapi Iryan malah terkekeh geli, mengacuhkanku.
“Rasanya.. ada sesuatu diperut nih. Pingin ketawa, tapi bukan
itu,”
“Hee...?” Aku tak paham.
“Mungkin ini perasaan bahagia yang suka dibilang sama
orang-orang,” Ujarnya kemudian. Aku diam mendengarkan.
“Bangga, deh. Kayaknya aku ngga takut lagi ngelepas kalian.
Sekarang kalian udah pada dewasa dan bisa melakukan sendiri tanpa bantuanku
lagi,” Lanjut Iryan.
“Ngomong apa, sih?” Aku memukul bahu Iryan.
“Kalian pasti bisa
berdiri sendiri, kalau suatu saat aku udah ngga ada disini”
Aku merasakan hal yang sama dengan Iryan, walaupun aku hanya
adik kelas. Hari ini berakhir dengan sekantung penuh kesan dan pesan. Tanggung
jawab Iryan mulai nampak oleh adik kelasnya disini
***
Hari ini hari berharga. Ini hari kedua kaderisasi. Hari
dimana matahari terbit di timur seperti biasa, sayap sayap burung mengepak di
langit, angin sepoi sepoi berhembus, sambil melihat setiap goresan di papan
tulis yang berisi materi emas namun dibawakan bagai anak kecil yang diajarkan
cara memakan kue. Benar benar membosankan namun untungnya Iryan punya caranya
tersendiri untuk memberikan keping per keping materi yang dibalut dengan
tawanya yang renyah berharap agar tidak terlalu membosankan. Iryan bertanggung
jawab agar adik kelasnya minimal bisa mengerti apa yang ia ucapkan dan
mengaplikasikannya dalam setiap kegiatan klub.
Iryan tahu ia bukan guru yang selalu memberi soal kepada
murid muridnya, Iryan pun tahu ia bukan motivator andal bak Mario Teguh, Iryan hanyalah seorang
pelajar putih abu yang mencoba memberikan keping keping materi dasar dan
bongkahan bongkahan pengalamannya kepada adik kelasnya.
“Pertama Goal,
Planning. Execution,Evaluation . mengerti?”
“Mengerti...”
“Kedua Problem Solving
Decision Maker. Paham?”
“Pahaaam...”
“Ketiga Strength,
Weakness, Opportunity,Threat.Ada pertanyaan?”
“Ngga....”
“Terakhir, Time and Priority
Management. Materinya mau ditambah lagi atau cukup?“
“Cukuuup!!!”
“Naon artina eta
teh?”
“Buka kamus inggris-indonesia geura”
Lucunya sebagian adik adik kelasnya ada yang tak paham
apa arti dari masing masing kata berbau inggris tersebut. Berbagai kata pun
mulai jadi bahan plesetan.
“Goal!! Satu kosong! Oh iya! goal main bola”
Bahkan pertanyaan pertanyaan pun ikut terkena ranjau kulit
pisang dan mulai terpeleset, seperti dalam materi Time and priority management.
“Nah sekarang , bayangkan kalian adalah seorang pemadam
kebakaran yang pada detik itu kalian harus menyelamatkan orang dan kalian ingin
buang air. Apakah buang air termasuk penting-harus sekarang atau tidak
penting-harus sekarang?”
“hayoo... jawabannya
apaa?”
Semua anak tertawa mendengar pertanyaan itu. Butuh berpikir
namun menggelitik pikiran juga.
Inti dari semua materi berbau inggris itu adalah hidup ini
harus bertujuan, rencanakanlah,pertimbangkan, atur waktunya dan jangan sampai
ada pekerjaan yang membuatmu dikejar waktu. Tambahan dari plesetan itu adalah
jangan menyepelekan hal kecil yang terjadi dalam hidup kita.
***
Hari ini juga adalah hari yang
berharga. Hari yang seharusnya tenang dan nyaman
untuk beristirahat. Semua orang berhak untuk mendapatkan itu, apalagi bila
sudah bekerja lima hari seminggu dan selalu pulang sore. Akan tetapi hari ini
adalah hari adik kelasnya presentasi.
“Hampir terlambat…” ucap Iryan dan Iryan
pun bangun dengan malas. Bukan karena ia masih mengantuk, tapi Iryan sudah tahu
bahwa hari ini akan menjadi hari yang berat. Ia bersiap-siap untuk pergi.
Iryan
datang cukup pagi. Pikirannya masih acak. Untuk mengalihkan perhatian Iryan pun
sibuk mempersiapkan ruangan dan peralatan untuk presentasi.
Ada yang beberapa hal yang mungkin Iryan tidak tahu dan harus
tau. Hari ini mungkin akan menjadi sebuah kejutan besar bagi Iryan dan teman
temannya.
Moderatornya adalah salah satu gadis adik kelasnya yang mau
tidak mau, ia harus siap membawakan presentasi ini tetap berada pada jalannya. Iryan
duduk semanis gula di bangku paling depan, ingin melihat bagaimana adik
kelasnya unjuk muka, bahasa dan pemikiran mereka.
Presentasi
dimulai, semua memperhatikan dengan baik. Adik kelasnya menunjukkan program
kerja mereka untuk setahun kedepan. Dasarnya sama dengan program kerjanya dulu
tetapi lebih detil dan terarah. Intinya, hampir semua sudah sesuai harapannya.
Ia senang program kerjanya mendidik adik-adik kelasnya berjalan lancar. Ia
sudah memberi semua materi penting dalam klub yang ia bisa dan semua itu ia
yang ajarkan sendiri. Sebagai gantinya, adik-adik kelasnya melakukan presentasi
tentang apa-apa saja yang akan mereka lakukan untuk setahun kedepan. Efektif, pikirnya. Ia memanfaatkan tahap
ini sebagai evaluasi adik-adik kelasnya terhadap materi yang telah ia berikan.
Tidak
semua presentasi dari adik-adik kelasnya lolos dari pertanyaan. Beberapa poin
menjadi perhatiannya, tetapi ia seperti merasa enggan. Ia membiarkan
teman-temannya memberi pertanyaan lebih dahulu. Memang terdengar bodoh, tetapi
ia merasa visi dan misi adik-adik kelasnya lebih baik daripada apa yang ia dan
teman-temannya punya setahun lalu. Ia harus
mengatakannya tetapi ia tertahan, merasa tidak pantas, situasi sekarang pun
tidak percaya akan Iryan alami. Cepat atau lambat, Iryan harus mengatakannya. Waktu terus berjalan
menyusuri jalan kecil, terus berotasi. Jarum detik mengejar jarum menit dan
jarum menit mengejar jarum jam.
Sesi pertanyaan pun dimulai, semua pertanyaan mengandung kata
“kenapa, mengapa dan bagaimana” memang pertanyaannya nampak simple namun tak mudah untuk dijawab,
setiap jawaban harus dipertimbangkan. Semua pertanyaan bisa adik kelasnya
jawab, sampai saatnya ada satu pertanyaan yang begitu membuat adik kelasnya
kebingungan padahal itu adalah inisiatif mereka sendiri. Satu permasalahan
disini. Adik kelasnya berinisiatif untuk mengganti susunan organigram yang
telah bersejarah selama tujuh tahun. Mengapa?
Adik kelasnya memberi alasan demi alasan
namun alasan itu tak kuat, tak mengikat bagai rantai, alasan itu hanya seperti
karet usang yang sudah tak elastis lagi. Adik kelasnya pun meminta Iryan untuk
berdiskusi terlebih dahulu.
Sebenarnya
pada
organigram awal dan baru, perbedaannya hanya dua;posisi co-danchou benkyou berganti
nama menjadi kadiv benkyou dan menghilangkan co-danchou bunka. Karena:
1) Fokus dalam dua kegiatan
inti
2)
Berkurang pembagian kekuasaan
3)
Cocok untuk personality angkatan
3 buah alasan mengapa organigram itu diganti,tapi Iryan
yakin, tidak hanya itu. Mungkin juga Iryan tahu bahwa sebenarnya ada hal yang
disembunyikan oleh adik kelasnya. Feelingnya
berkata demikian.
Sesi diskusi pun dimulai. Semua saling berdiskusi bersama
teman teman satu angkatannya begitupula Iryan. Masing masing memikirkan apa
alasan yang kuat untuk mempertahankan organigram yang ada. Enam angka telah
terlewati jarum menit. Diskusi harus sudah diakhiri.
Masuk ke sesi bertukar pikiran. Ya... menukar pikiran satu
sama lain. Adu mulut antar sesama pun terjadi. Semua berjuang susah payah
memperjuangkan organigram yang ada. Hanya karena organigram saja, membuat
presentasi ini tidak berjalan mudah. Mungkin bukan hanya,tapi seberapa besar
pengaruhnya. Adik kelasnya memberikan pikiran mereka tentang mengapa oganigram
itu harus dirubah.
“Sebenarnya sudah jauh jauh hari sebelum presentasi ini
kami telah membentuk program kerja, posisi, organigram, serta awal yang baru. Karena menurut kami semua
problematika 'satu sisi yang sama' antara kami hilang begitu saja. Sejak itu kami mulai bekerja sama,
menghabiskan waktu bersama, serta mengumpulkan anggota secara utuh.”
Ucap Riza salah satu gadis
adik kelasnya yang lain.
Semuanya terdiam. Masalah ini seperti menemui jalam buntu.
Akhirnya Iryan mencoba mempreassure
adik kelasnya, membuat adik kelasnya mengeluarkan semua kemungkinan rahasia
mereka.
“Katakan sejujurnya. Apa yang membuat kalian ingin mengganti
posisi itu?” Tanyanya datar. Semuanya terdiam. Lalu Iryan mengulangi
pertanyaannya dengan nada meninggi.
Pertanyaan Iryan yang ketiga ini terdengar lebih jelas.
“Kenapa kalian ingin menganti wakil ketua yang asalnya ada dua, jadi hanya ada
satu wakil?”.
Ikki, salah seorang adik kelas lelaki yang tampak tegang
kemudian menjawab dengan yakin.
“Karena kenyataannya posisi wakil ketua kedua itu sama sekali
ngga berpengaruh!”
Jawaban itu membuat teman seangkatan Iryan dan Iryan sendiri
tertohok. Iryan dan beberapa pasang mata melirik pelan Jean yang diam tak
bergeming.
Iryan adalah wakil ketua 1, dan Jean, adalah wakil ketua 2.
Pernyataan Ikki tadi tentu saja memojokkan Jean secara
sepihak. Mungkin ada sebagian teman Iryan
yang merasa kesal dengan tingkah salah satu adik kelasnya yang bisa dibilang
‘kurang ajar’. Iryan sudah seharusnya senang karena para adik kelas mengetahui
kesulitan Iryan. Namun, justru ini hal yang sebaliknya.
“Udah jelas kan, kak? Wakil ketua kedua itu ngga bekerja secara
objektif!”
“Tapi kamu ngga bisa menghapuskan hal itu gitu aja!” Sanggah
senior yang lain.
”Kenapa? Kekurangan disini kan udah jelas terletak disebelah
mana, kak!” Lagi-lagi kalimat menyebalkan keluar dari mulut para adik kelas. Terjadi
adu mulut dan adu cekcok antara senior dan juniornya. Sejujurnya, aku tak suka
dengan hal ini. Aku moderatornya, tapi aku bingung harus berbuat apa.
“Apa maksud kalian ngga berpengaruh!” Bentak Iryan dibarengi
dengan gebrakan meja. Semua hening. Wajahnya
memerah dan tangannya tampak bergetar.
Aku menarik kerah bajuku, menahan ketakutan. Berharap
ketegangan ini mencair. Tapi tak seperti yang kuharapkan.
“Kalian bilang gitu, karena kalian melihat aku selalu ada!” Iryan
menahan suaranya dan tampak marah. “Kalian berkata wakil kedua ngga ada
gunanya, sama aja bilang semua kakak kelas kalian ngga berguna!” Bentaknya
lagi.
Aku membenarkan. Pada prakteknya, memang hanya Iryan yang
berusaha keras. Jean sendiri hanya diam tak bertindak apa-apa.
“Kalian kasian sama saya, hah?!” Sentak Iryan. “Kalian
kasian, liat saya kerja sendirian ngga dibantuin yang lain?! Saya ngga butuh
dikasihanin sama kalian! Kalian kan ngga tahu yang sebenernya gimana! Jangan
mutusin perkara yang ngga kecil kayak gini, dong! Oke kalo ini adalah
organigram dari ide kalian, menurut kalian siapa yang pantas untuk menjadi
ketua?”
Adik adik kelasnya mulai bingung, seperti ada satu hal yang
mereka sembunyikan dan mereka takut untuk menyebutkannya. Tapi ternyata adik
kelasnya nya pun menjawab secara serempak
“Ikki!”
Iryan pun mulai mendapat poin poinnya, ia menanyakan lagi
siapa saja yang menjabat sebagai apa. Bertubi tubi Iryan lontarkan pernyataan
dari kata “mengapa” menjadi “siapa”
Aku menahan nafas. Seseorang, aku harap. Seseorang, kuharap
menghentikan semua ini. Aku ingin ini berakhir!
Dan saat itu, terdengar suara rendah seseorang berbunyi
diantara kami. Aku menatap dengan tidak percaya.
“Menurutku itu bagus, mereka
ga salah salah juga Yan.” Jean berdiri tegak sambil manggut. Tanpa perasaan
dongkol, yang entah dia menyembunyikanya atau bagaimana.
Bisik-bisik kecil terdengar
diantara para adik kelas kami.
Semudah itukah ia berkata?
“Lho? Emangnya kenapa?
Menurutku dengan begitu klub akan lebih kondusif. Kalian juga pasti mikirin hal
yang sama kan, sebenernya?” Jean berkata.
“Kalian sendiri pasti
ngerasa itu bener, kan? Iryan memang kerja sendirian.”
“Stop, Jean!”
Ini sama sekali ngga
menyelesaikan masalah
Iryan mulai mendingin dan saat
berbalik melihat sekitar, Iryan mendapati seorang tengah keluar lewat pintu. Itu
Riza, adik kelasnya, ia pergi begitu saja dari ruangan itu.
“Riza mau kemana?” Tanya Iryan
melembut.
“Cari udara segar!” jawab
Riza meninggi
Iryan
berpikir mungkin ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. Kenapa dari
semua adik kelasnya hanya ia saja yang pergi. Apakah benar ada yang
disembunyikan atau jangan jangan semua perubahan ini adalah rencananya? Iryan
tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
Iryan berfikir, ia menyatukan poin poinnya. Mungkin inikah yang
dinamakan
kudeta implisit sebagai inisiatif. Sepertinya adik kelasnya takut kalau kaderisasi tidak bekerja dengan baik melihat Iryan yang bekerja sendiri. Mungkin mereka semua sepakat masih menanti kaderisasi, dengan parameter
mengetahui apa saja yang akan mereka pegang pada saat memegang klub. Mungkin mereka tidak melakukan secara eksplisit bernama 'kudeta' karena
masih respek dengan prospek kakak kelas ke depan. Penuh dengan semangkuk kata mungkin disini. Perlu ada bumbu
kepastian agar semuanya terasa sedap. Semua kemungkinan ini adalah bagian dari
tanggung jawab Iryan.
***
Beberapa hari setelah presentasi itu
sempat ada konflik yang terjadi antara Iryan dan Riza. Bahkan kejadian itu pun
sempat tersebar di media sosial. Kejadian itupun bahkan membuat emosi beberapa
para kakak kelas naik. Iryan pun tampak ikut kesal
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . *** . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Hari demi hari berlalu,
kejadian pun berlalu. Sampai saat yang ditunggu-tunggu adik kelasnya tiba. Serah terima jabatan. Ketua yang
selanjutnya memang Ikki. Iryan merasa senang. Tugas dan tanggung jawabnya di klub
ini telah selesai. Iryan dan teman-teman seangkatannya pun lengser. Adik adik kelasnya sangat berterimakasih pada semua kakak
kelasnya terutama Iryan yang membekali mereka dengan bekal bekal yang
menakjubkan walau kadang ada konflik diantaranya.
Semua berbalik ke belakang membelakangi
dan mulai melangkah ke depan menuju masa depan yang lebih baik. Mari kita percayakan pada masa depan.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . .*** . . . .. . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . .Sudah 3
bulan peristiwa itu berlalu. Sekarang Iryan sudah turun jabatan secara resmi.Tanggung
jawabnya usai sudah. Ketua klub yang sekarang telah diserahkan pada adik kelasnya.
Sebelum Iryan meniup lilin berbentuk 18, Ia berharap semua masih baik baik
saja.
“Apakah semua baik baik saja? ya.. kuharap
begitu. Aku yakin”
Di hari itupun Clyra
datang pada perayaan Iryan ke 18 nya
“Selamat ulang tahun ke
18 Yan...Maafin gue ya...” ucap Clyra
Iryan pun berjalan menghampiri
Clyra sambil menyebutkan namanya dengan penuh rasa kerinduan.
“Clyra...”
***
Diantara
musim kemarau dan hujan serta disaat sinar mentari hanya tampak sedikit, Clyra
menemukan seorang lelaki menghampiriku, ia berdiri disebelahku sambil menatap langit
penuh awan, seperti memikirkan sesuatu.
“Hai,
apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.
“Hanya
menemanimu” jawabnya singkat.
Itu
terjadi hampir setahun yang lalu. Dan hari ini...
Ucapkanlah
harapanmu Iryan, silahkan tiup lilinmu, matikan semuanya. Maaf bila selama ini selalu
merepotkanmu. Percayalah semua usaha kerasmu itu tak akan mengkhianati. Semua
bagai bunga yang mekar secara perlahan dan ketika harapanmu itu mencapai langit
cerah. Semoga suatu hari nanti harapanmu terkabul.
Ini
kepingan kecil hadiahku untukmu, Yan.


Komentar
Posting Komentar