Langsung ke konten utama

TEGAKKAN DIRIKU GANTIKAN DIRIMU


Dia adalah sebuah lilin kecil
Menyala dengan semangat api mungil
Membakar raganya tetap hidup

Dia adalah sebuah lilin kecil
Mungkin sinarnya kalah oleh mentari
Tapi saat semuanya hilang dia pastikan nyalanya ada
Namanya Iryan, Dia adalah lelaki tujuh belas tahun dengan seragam putih abunya yang sekarang merupakan tahun terakhirnya di sekolah ini.
Tiga tahun kurang aktif menjadi anggota klub sekolah. Setidaknya sebagai pelajar Iryan sudah memanfaatkan program ekstrakurikuler dengan baik dan mengambil banyak pengalaman dari klub tersebut. Iryan adalah seorang siswa biasa yang menjadi wakil ketua sebuah klub. Kini kesibukannya adalah bersanding dengan kata persiapan.Persiapan ujian, persiapan kuliah, dan dalam rentang waktu dekat ini adalah persiapan kaderisasi penerusnya di klub itu. Persiapan ini memakan waktu dan secara tak sadar waktu pun memakan Iryan. Iryan menghabiskan 2 bulan pertama untuk menyiapkan segala persiapan untuk kaderisasi semampu yang ia bisa. Ia bekerja sendiri dan bertanggung jawab sepenuhnya atas kaderisasi ini.
 “Lho, Iryan kan wakil ketua? kenapa dia yang tanggung jawab sepenuhnya? Kenapa bukan ketua?”
Itulah pertanyaan yang sering sekali diajukan pada Iryan. Iryan hanya membalasnya dengan senyuman yang kutahu di dalam hatinya terasa melelahkan. Pertanyaan yang begitu polos bagi orang yang mengetahui keadaan sebenarnya. Ya...  Ketua klub itu menghilang dan bisa disebut meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ketua. Yang terakhir kutahu, Iryan begitu dekat dengan ketua itu. Ketua itu adalah seorang gadis setahun lebih tua dari Iryan, ia bernama Clyra. Clyra adalah gadis periang dan selalu bersemangat, aku sendiri bahkan mengaguminya. Namun semuanya berubah saat Clyra mulai jarang terlihat lagi di sekolah. Kabarnya ia sakit,tapi itu baru awal. Lama kelamaan kabarnya mulai tak jelas, mungkin bisa dibilang “menghilang” sampai akhirnya kudengar, Clyra telah angkat kaki ke Lampung dan tidak akan kembali entah sampai kapan.
            Aku disini hanyalah seorang adik kelas yang cukup dekat dengan Iryan dan tak berpengaruh besar untuk klub itu. Akan tetapi, kepergian Clyra berpengaruh besar bagi klub itu terutama bagi Iryan, karena secara tidak langsung ini adalah beban bagi Iryan untuk menjadi pangganti Clyra. Pernah satu waktu Iryan mengajak anggota anggotanya untuk ikut membantunya bertanggung jawab. Tapi apa daya semua anggotannya beranggapan bahwa Iryan lah yang lebih pantas untuk bertanggung jawab menggantikan Clyra. Teman teman Iryan
berhamburan entah ke mana, selepas event besar yang memakan banyak tenaga. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap adik kelasnya?
            Adik kelasnya adalah motivasinya. Ia ingin yang terbaik untuk adik kelasnya. Walaupun begitu, sebenarnya ada motivasi lain dibalik adik kelasnya yakni Iryan menyukai Clyra. Rasa sayang Iryan terhadap Clyra memberikan semangat tersendiri bagi Iryan. Ia bahkan pernah menyatakan perasaan itu di hari Clyra berangkat ke Lampung. Akan tetapi, motivasi itu tidak bertahan lama. Karena perasaan itu semakin lama semakin pudar. Bahkan disaat Iryan emosi, ia terkadang selalu menyebut nyebut nama Clyra dan menyalahkannya.
            “Ah...Kenapa sih Clyra harus pergi?”
Kalimat itulah yang selalu aku dengar dari Iryan ketika ia kesal.
“Gara-gara Clyra, aku jadi seperti ini!”
Itulah kata kata yang kerap kali diucapkan ketika Iryan mulai lelah dengan semua tanggung jawab ini. Tapi apa daya, semuanya tak ada yang peduli. Semuanya tidak berani mengambil tanggung jawab dengan alasan takut menghancurkan. Mungkin tidak masalah baginya untuk mengambil tanggung jawab ini, Ia masih punya motivasi yang kuat agar Ia tetap semangat menanggung beban ini. Ia mencintai Clyra. Itulah motivasinya sampai saat ini.
“Iryan..,” Panggilku suatu siang seusai kegiatan klub. Ia melangkah belum terlalu jauh. Dengan ragu ia menoleh, seperti menjawab “ada apa?”. Aku berlari kecil mendekatinya, lalu sama-sama berjalan.
“Uhm..,” Aku terdiam beberapa saat, bingung dengan apa yang hendak aku sampaikan.“Anu.. Iryan.. apa kamu.. merasa terbebani dengan kami semua?” Pertanyaan itu meluncur dengan lancar, seperti baru saja kuolesi oli. Aku sempat berdebat keras dengan hatiku mengenai hal ini. Aku takut pertanyaanku ini malah membuatnya semakin susah, aku takut Iryan malah jadi memikirkan tentang ini.
Kami berdua masih berjalan dalam diam. Tidak lewat beberapa detik, Iryan mendengus dan terkekeh, membuatku bingung.
“Kenapa kamu berfikir seperti itu? Apa kamu berfikir aku keberatan dengan semua ini?” Ia malah balik bertanya.
“Bu.. bukan itu. Aku cuman..” Aku menjawab pelan. Kami sama-sama terdiam. Dan pertanyaanku tadi masih belum dijawab.
“Mungkin,” Kata Iryan kemudian.
“Eh? Itu jawaban pertanyaanku tadi, atau apa?”
“Iya, itu jawabanku. Mungkin..., ga sih! Kadang, aku meragukan diriku sendiri dan bertanya apa aku bisa memikul ‘beban’ ini. Tapi kemudian pikiran itu hilang saat bayangan kalian semua terbesit dibenakku. Untuk sejenak aku merasa keberatan. Tapi itu bukan karena kalian kok. Ini karena aku sendiri. Justru, kalianlah yang membuatku tetap kuat. Kamu pasti sudah tahu itu,”
Aku tercenung mendengarkan kalimat Iryan.
Pemakaian hati dan emosi telah Iryan gunakan seminimal mungkin, dan sepertinya limit stressnya juga sudah hancur kelibas. Entah kenapa aku jadi merasa marah pada Clyra. Aku bingung, kalau memang Clyra tak sanggup, kenapa dia menyanggupi untuk menjadi ketua? Ini sama saja.., membuat Iryan kesulitan.
***
Dia adalah sebuah lilin kecil
Mungkin dia padam oleh tiupan angin kencang
Tapi dia percaya ada yang akan menyalakannya kembali

Dia adalah sebuah lilin kecil
Berjuang menyala bersama waktu
Hingga habis nyala sumbunya
            Suatu hari, aku menemukan Iryan tengah duduk bersender pada tasnya yang tebal, sambil menatap langit biru penuh awan dengan sedikit goresan jingga, seperti memikirkan sesuatu. Apakah ia mulai mempertanyakan tanggung jawabnya? Atau ia memikirkan bagaimana kaderisasi kedepannya? Ataukah ia memikirkan masa lalunya dengan Clyra? Hal itu membuatku bertanya tanya dan semakin penasaran.
            “Iryan! Ngapain?”
            “Iseng memandangi langit” jawab Iryan dengan nada datar dan humornya
            “Ah... Iryan, jangan sok sok an dramatis kaya di film film deh. Iryan kenapa?” tanyaku.
            “Ngga kenapa-napa. kamu?”
            “Aku? Aku ga kenapa kenapa. Aku baru dateng dan liat kamu trus nanya deh. Udah,” jawabku sederhana.
            “Rasanya aku kangen Clyra deh” Ucapnya tiba-tiba.
            “Hee....”
            Kata kata itu kadang tak sengaja keluar dari mulut Iryan. Mungkin sebenarnya Iryan masih menyukainya, namun saat ini sepertinya rasa kesal terhadap Clyra menjadi lebih besar dibanding rasa sukanya.
            Pernah suatu hari kedua lengan Iryan tiba tiba melingkari tubuhku, itu terjadi satu hari setelah Clyra pergi. Aku shock saat Iryan melakukannya, walaupun hanya sekejap mata. Awalnya kupikir karena itu adalah pelampiasannya terhadap Clyra, tapi tenyata bukan. Entah apa.
Saat itu aku menangis karena kepergian Clyra. Dan beberapa saat setelah pelukan Iryan terjadi, aku bertanya padanya.
“Iryan! Kenapa kamu memelukku seperti itu..?” Tanyaku heran.
“Hah? Oh... kamu.. punya seseorang yang disuka?”
“Punya,” Jawabku tegas.
“Oh.. kalo gitu... anggap aku ayah kamu. Soal meluk kamu itu.., kamu tadi nangis sih. Biasanya orang yang lagi sedih butuh pelukan, kan?”
            Sekarang ini aku hanya menerka. Aku menghargai Iryan yang berusaha tetap membuatku bersemangat dan tidak sedih. Namun aku menyadari sesuatu.
Biasanya orang yang lagi sedih butuh pelukan, kan?
Iryan memelukku karena saat itu aku sedang sedih. Tapi yang sebenarnya paling sedih, adalah Iryan. Dan Iryan-lah yang sebenarnya membutuhkan pelukan. Mungkin itulah sebab mengapa ‘pelukan’ itu terjadi.
Emosi Iryan yang tertahan, seketika meluap saat melihat aku menangis. Aku semakin mengerti seberapa dalam perasaan Iryan pada Clyra.
***
            Kembali ke kesibukan Iryan saat ini. Hari ini kesibukannya seperti biasa, kesibukan yang membuatnya berada lama di sekolah menghabiskan waktu hanya untuk menunggu. Bukan menunggu seseorang, tapi menunggu sekumpulan orang. Lama kelamaan Iryan mulai bosan dan kesal dengan menunggu. Hari ini Iryan entah kenapa aku lihat Iryan uring uringan.
            “Aku itu udah kelas tiga, harusnya udah fokus ujian. Mending aku lepas tangan aja semua sekarang. Lelah kalo gini terus!” bentaknya.
Iryan membantingkan tas dan jaketnya ke lantai dan muka Iryan merah padam. Aku tak pernah melihatnya seperti itu.
            Aku mencoba untuk kuat melihatnya tapi apa daya... aku benar benar tak kuat lagi melihatnya. Aku pun pergi meninggalkan Iryan tetapi dengan niat aku akan kembali setengah jam lagi.
            Setengah jam itu kupakai untuk mengalirkan semua air yg telah menggenang di bawah kelopak mataku. Aku sedih melihat Iryan seperti itu. Aku kesal aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sedih sudah membuatnya menunggu. Tapi aku mencoba kuat dan kuat. Yasudah... mungkin esok akan jadi lebih baik.
***
Esok adalah hari berharga. Esok kaderisasi pertama dimulai. Kaderisasi ini sangat penting bagi Iryan, karena ini adalah bentuk pengabdian Iryan pada sekolah. Klub di sekolah seperti klub yang ia pegang berfungsi melatih keterampilan, pola pikir, soft skills, dan beragam ilmu yang tidak biasanya didapatkan dalam kelas. Mungkin menurut beberapa orang klub ekstrakurikuler tidak terlalu penting. Akan tetapi Iryan termasuk orang yang tidak setuju dengan itu. Apakah semua ini mudah? Tentu saja tidak, Iryan bertanggung jawab walaupun tidak secara langsung mendidik adik kelasnya untuk bisa terampil, berpikiran luas, dan bersosialisasi dengan orang lain.
Menurutnya, adik-adik kelasnya adalah sekumpulan orang-orang paling hebat, paling dekat, dan paling ia sayangi. Akan tetapi, mereka belum banyak berpengalaman. Mereka siap dengan potensi, hanya butuh diberi masukan ilmu dan tata cara yang benar agar bisa bekerja sama dengan profesional sebagai sebuah organisasi. Ia sadar salah satu alasannya ialah angkatannya tidak memberi adik-adik kelasnya bekal yang cukup dan menjaga mereka dengan baik. Hanya dengan waktu yang sedikit ini ia ingin memberikan sesuatu pada mereka
Bagaimana caranya mendidik adik-adik kelasku agar siap untuk satu tahun kedepan?
Seperti kebanyakan masalah yang dialami klub ekstrakurikuler, Angkatannya tidak terlalu baik dan banyak konflik terjadi. Iryan sadar angkatannya tidak dapat memberi banyak kepada adik-adiknya. Angkatannya sendiri pun tidak dapat bekal yang banyak dari kakak kelas terdahulunya. Akan tetapi tidak mungkin bila harus terulang lagi. Angkatannya tercerai-berai menghilang satu-persatu, ketuanya pergi, dan Iryan mau tidak mau harus maju menggantikan ketua. Parahnya, hampir semua catatan mengenai tugas, program kerja, dan hal-hal yang telah dicapai selama ini belum pernah sampai padanya. Lagi-lagi Iryan terpaksa membuat sistem kerja baru yang bertumpu pada dirinya sendiri. Ia tidak mau adik kelasnya mengalami hal yang sama. Ia siap menjadikan angkatannya batu loncatan untuk perubahan yang lebih baik bagi penerusnya. Ini adalah sedikit dari yang bisa ia lakukan di tahun terakhirnya.
Mungkin semua ini hanyalah keinginannya sendiri. Tidak semua teman seangkatannya mungkin sejalan dengannya, walaupun sejalan, beban kelulusan membuat mereka tidak bisa ikut terlalu banyak. Walaupun sebenarnya Iryan pun memiliki beban yang sama, hari demi hari tugas mendidik penerus baru ia lakukan sedikit demi sedikit. Tentu saja tidak dilakukan sendiri, tetap ada sebagian temannya yang masih aktif membantu menyumbang ide, yang lain hanya datang untuk menengok dan menanyakan kabar. Beruntung bila bisa rapat, berkumpul bersama, saling tukar pendapat, dan berbagi tugas untuk meringankan bebannya. Tidak ada yang bisa disalahkan, tidak ada pihak yang salah. Hanya memang seperti inilah kondisinya sekarang, inilah jalan yang ada sekarang untuknya.
***
Hari ini hari berharga. Kegiatan utamanya dimulai hari ini, ini adalah pertemuan pertama adik kelasnya menjalani kaderisasinya. Iryan menyuguhkan beberapa materi peraknya tentang sejarah klub itu dan beberapa hal general tentang klub itu. Selain itu Iryan menyampaikan materi emasnya yakni tentang kekeluargaan.
 Kekeluargaan itu penting. Setiap orang memiliki peran dalam sebuah keluarga. Satu syarat sebuah keluarga adalah apapapun yang terjadi dan seburuk apapun yang terjadi, keluarga tak akan meninggalkanmu. Tetaplah berkomunikasi dengannya.
Semuanya lancar bahkan adik kelasnyanya pun tampak bahagia. Tampak semburat senyuman dalam wajah Iryan, mungkin dia senang melihat adik adik kelasnya mulai tumbuh berkembang. Hari ini berakhir dengan sekantung penuh kesan dan pesan.
“Kenapa senyum?” Seruku kepada Iryan saat melihat Iryan berdiri memandangi adik kelasnya. Ia tersenyum dengan tidak biasa.
“Ah.. ngga ko,” Ia malah menjawab sambil menahan senyum.
“Hayo! kenapa?”
Tapi Iryan malah terkekeh geli, mengacuhkanku.
“Rasanya.. ada sesuatu diperut nih. Pingin ketawa, tapi bukan itu,”
“Hee...?” Aku tak paham.
“Mungkin ini perasaan bahagia yang suka dibilang sama orang-orang,” Ujarnya kemudian. Aku diam mendengarkan.
“Bangga, deh. Kayaknya aku ngga takut lagi ngelepas kalian. Sekarang kalian udah pada dewasa dan bisa melakukan sendiri tanpa bantuanku lagi,” Lanjut Iryan.
“Ngomong apa, sih?” Aku memukul bahu Iryan.
 “Kalian pasti bisa berdiri sendiri, kalau suatu saat aku udah ngga ada disini”
Aku merasakan hal yang sama dengan Iryan, walaupun aku hanya adik kelas. Hari ini berakhir dengan sekantung penuh kesan dan pesan. Tanggung jawab Iryan mulai nampak oleh adik kelasnya disini
***
            Hari ini hari berharga. Ini hari kedua kaderisasi. Hari dimana matahari terbit di timur seperti biasa, sayap sayap burung mengepak di langit, angin sepoi sepoi berhembus, sambil melihat setiap goresan di papan tulis yang berisi materi emas namun dibawakan bagai anak kecil yang diajarkan cara memakan kue. Benar benar membosankan namun untungnya Iryan punya caranya tersendiri untuk memberikan keping per keping materi yang dibalut dengan tawanya yang renyah berharap agar tidak terlalu membosankan. Iryan bertanggung jawab agar adik kelasnya minimal bisa mengerti apa yang ia ucapkan dan mengaplikasikannya dalam setiap kegiatan klub.
            Iryan tahu ia bukan guru yang selalu memberi soal kepada murid muridnya, Iryan pun tahu ia bukan motivator andal bak Mario Teguh, Iryan hanyalah seorang pelajar putih abu yang mencoba memberikan keping keping materi dasar dan bongkahan bongkahan pengalamannya kepada adik kelasnya.
            “Pertama Goal, Planning. Execution,Evaluation . mengerti?”
            “Mengerti...”
“Kedua Problem Solving Decision Maker. Paham?”
“Pahaaam...”
“Ketiga Strength, Weakness, Opportunity,Threat.Ada pertanyaan?”
“Ngga....”
“Terakhir, Time and Priority Management. Materinya mau ditambah lagi atau cukup?“
“Cukuuup!!!”
            “Naon artina eta teh?”
            “Buka kamus inggris-indonesia geura
            Lucunya sebagian adik adik kelasnya ada yang tak paham apa arti dari masing masing kata berbau inggris tersebut. Berbagai kata pun mulai jadi bahan plesetan.
“Goal!! Satu kosong! Oh iya! goal main bola”
Bahkan pertanyaan pertanyaan pun ikut terkena ranjau kulit pisang dan mulai terpeleset, seperti dalam materi Time and priority management.
“Nah sekarang , bayangkan kalian adalah seorang pemadam kebakaran yang pada detik itu kalian harus menyelamatkan orang dan kalian ingin buang air. Apakah buang air termasuk penting-harus sekarang atau tidak penting-harus sekarang?”
 “hayoo... jawabannya apaa?”
Semua anak tertawa mendengar pertanyaan itu. Butuh berpikir namun menggelitik pikiran juga.
Inti dari semua materi berbau inggris itu adalah hidup ini harus bertujuan, rencanakanlah,pertimbangkan, atur waktunya dan jangan sampai ada pekerjaan yang membuatmu dikejar waktu. Tambahan dari plesetan itu adalah jangan menyepelekan hal kecil yang terjadi dalam hidup kita.
***
Hari ini juga adalah hari yang berharga. Hari yang seharusnya tenang dan nyaman untuk beristirahat. Semua orang berhak untuk mendapatkan itu, apalagi bila sudah bekerja lima hari seminggu dan selalu pulang sore. Akan tetapi hari ini adalah hari adik kelasnya presentasi.
“Hampir terlambat…” ucap Iryan dan Iryan pun bangun dengan malas. Bukan karena ia masih mengantuk, tapi Iryan sudah tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang berat. Ia bersiap-siap untuk pergi.
Iryan datang cukup pagi. Pikirannya masih acak. Untuk mengalihkan perhatian Iryan pun sibuk mempersiapkan ruangan dan peralatan untuk presentasi.
Ada yang beberapa hal yang mungkin Iryan tidak tahu dan harus tau. Hari ini mungkin akan menjadi sebuah kejutan besar bagi Iryan dan teman temannya.
Moderatornya adalah salah satu gadis adik kelasnya yang mau tidak mau, ia harus siap membawakan presentasi ini tetap berada pada jalannya. Iryan duduk semanis gula di bangku paling depan, ingin melihat bagaimana adik kelasnya unjuk muka, bahasa dan pemikiran mereka.
Presentasi dimulai, semua memperhatikan dengan baik. Adik kelasnya menunjukkan program kerja mereka untuk setahun kedepan. Dasarnya sama dengan program kerjanya dulu tetapi lebih detil dan terarah. Intinya, hampir semua sudah sesuai harapannya. Ia senang program kerjanya mendidik adik-adik kelasnya berjalan lancar. Ia sudah memberi semua materi penting dalam klub yang ia bisa dan semua itu ia yang ajarkan sendiri. Sebagai gantinya, adik-adik kelasnya melakukan presentasi tentang apa-apa saja yang akan mereka lakukan untuk setahun kedepan. Efektif, pikirnya. Ia memanfaatkan tahap ini sebagai evaluasi adik-adik kelasnya terhadap materi yang telah ia berikan.
Tidak semua presentasi dari adik-adik kelasnya lolos dari pertanyaan. Beberapa poin menjadi perhatiannya, tetapi ia seperti merasa enggan. Ia membiarkan teman-temannya memberi pertanyaan lebih dahulu. Memang terdengar bodoh, tetapi ia merasa visi dan misi adik-adik kelasnya lebih baik daripada apa yang ia dan teman-temannya punya setahun lalu. Ia harus mengatakannya tetapi ia tertahan, merasa tidak pantas, situasi sekarang pun tidak percaya akan Iryan alami. Cepat atau lambat, Iryan harus mengatakannya. Waktu terus berjalan menyusuri jalan kecil, terus berotasi. Jarum detik mengejar jarum menit dan jarum menit mengejar jarum jam.
Sesi pertanyaan pun dimulai, semua pertanyaan mengandung kata “kenapa, mengapa dan bagaimana” memang pertanyaannya nampak simple namun tak mudah untuk dijawab, setiap jawaban harus dipertimbangkan. Semua pertanyaan bisa adik kelasnya jawab, sampai saatnya ada satu pertanyaan yang begitu membuat adik kelasnya kebingungan padahal itu adalah inisiatif mereka sendiri. Satu permasalahan disini. Adik kelasnya berinisiatif untuk mengganti susunan organigram yang telah bersejarah selama tujuh tahun. Mengapa?
Adik kelasnya memberi alasan demi alasan namun alasan itu tak kuat, tak mengikat bagai rantai, alasan itu hanya seperti karet usang yang sudah tak elastis lagi. Adik kelasnya pun meminta Iryan untuk berdiskusi terlebih dahulu.
Sebenarnya pada organigram awal dan baru, perbedaannya hanya dua;posisi co-danchou benkyou berganti nama menjadi kadiv benkyou dan menghilangkan co-danchou bunka. Karena:
1) Fokus dalam dua kegiatan inti
2) Berkurang pembagian kekuasaan
3) Cocok untuk personality angkatan
3 buah alasan mengapa organigram itu diganti,tapi Iryan yakin, tidak hanya itu. Mungkin juga Iryan tahu bahwa sebenarnya ada hal yang disembunyikan oleh adik kelasnya. Feelingnya berkata demikian.
Sesi diskusi pun dimulai. Semua saling berdiskusi bersama teman teman satu angkatannya begitupula Iryan. Masing masing memikirkan apa alasan yang kuat untuk mempertahankan organigram yang ada. Enam angka telah terlewati jarum menit. Diskusi harus sudah diakhiri.
Masuk ke sesi bertukar pikiran. Ya... menukar pikiran satu sama lain. Adu mulut antar sesama pun terjadi. Semua berjuang susah payah memperjuangkan organigram yang ada. Hanya karena organigram saja, membuat presentasi ini tidak berjalan mudah. Mungkin bukan hanya,tapi seberapa besar pengaruhnya. Adik kelasnya memberikan pikiran mereka tentang mengapa oganigram itu harus dirubah.
“Sebenarnya sudah jauh jauh hari sebelum presentasi ini kami telah membentuk program kerja, posisi, organigram, serta awal yang baru. Karena menurut kami semua problematika 'satu sisi yang sama' antara kami hilang begitu saja. Sejak itu kami mulai bekerja sama, menghabiskan waktu bersama, serta mengumpulkan anggota secara utuh.
Ucap Riza salah satu gadis adik kelasnya yang lain.
Semuanya terdiam. Masalah ini seperti  menemui jalam buntu.
Akhirnya Iryan mencoba mempreassure adik kelasnya, membuat adik kelasnya mengeluarkan semua kemungkinan rahasia mereka.
“Katakan sejujurnya. Apa yang membuat kalian ingin mengganti posisi itu?” Tanyanya datar. Semuanya terdiam. Lalu Iryan mengulangi pertanyaannya dengan nada meninggi.
Pertanyaan Iryan yang ketiga ini terdengar lebih jelas. “Kenapa kalian ingin menganti wakil ketua yang asalnya ada dua, jadi hanya ada satu wakil?”.
Ikki, salah seorang adik kelas lelaki yang tampak tegang kemudian menjawab dengan yakin.
“Karena kenyataannya posisi wakil ketua kedua itu sama sekali ngga berpengaruh!”
Jawaban itu membuat teman seangkatan Iryan dan Iryan sendiri tertohok. Iryan dan beberapa pasang mata melirik pelan Jean yang diam tak bergeming.
Iryan adalah wakil ketua 1, dan Jean, adalah wakil ketua 2.
Pernyataan Ikki tadi tentu saja memojokkan Jean secara sepihak.  Mungkin ada sebagian teman Iryan yang merasa kesal dengan tingkah salah satu adik kelasnya yang bisa dibilang ‘kurang ajar’. Iryan sudah seharusnya senang karena para adik kelas mengetahui kesulitan Iryan. Namun, justru ini hal yang sebaliknya.
“Apa maksudnya ngga berpengaruh?” Tanya Iryan dengan kerut yang jelas didahinya.
“Udah jelas kan, kak? Wakil ketua kedua itu ngga bekerja secara objektif!”
“Tapi kamu ngga bisa menghapuskan hal itu gitu aja!” Sanggah senior yang lain.
”Kenapa? Kekurangan disini kan udah jelas terletak disebelah mana, kak!” Lagi-lagi kalimat menyebalkan keluar dari mulut para adik kelas. Terjadi adu mulut dan adu cekcok antara senior dan juniornya. Sejujurnya, aku tak suka dengan hal ini. Aku moderatornya, tapi aku bingung harus berbuat apa.
“Apa maksud kalian ngga berpengaruh!” Bentak Iryan dibarengi dengan gebrakan meja.  Semua hening. Wajahnya memerah dan tangannya tampak bergetar.
Aku menarik kerah bajuku, menahan ketakutan. Berharap ketegangan ini mencair. Tapi tak seperti yang kuharapkan.
“Kalian bilang gitu, karena kalian melihat aku selalu ada!” Iryan menahan suaranya dan tampak marah. “Kalian berkata wakil kedua ngga ada gunanya, sama aja bilang semua kakak kelas kalian ngga berguna!” Bentaknya lagi.
Aku membenarkan. Pada prakteknya, memang hanya Iryan yang berusaha keras. Jean sendiri hanya diam tak bertindak apa-apa.
“Kalian kasian sama saya, hah?!” Sentak Iryan. “Kalian kasian, liat saya kerja sendirian ngga dibantuin yang lain?! Saya ngga butuh dikasihanin sama kalian! Kalian kan ngga tahu yang sebenernya gimana! Jangan mutusin perkara yang ngga kecil kayak gini, dong! Oke kalo ini adalah organigram dari ide kalian, menurut kalian siapa yang pantas untuk menjadi ketua?”
Adik adik kelasnya mulai bingung, seperti ada satu hal yang mereka sembunyikan dan mereka takut untuk menyebutkannya. Tapi ternyata adik kelasnya nya pun menjawab secara serempak
“Ikki!”
Iryan pun mulai mendapat poin poinnya, ia menanyakan lagi siapa saja yang menjabat sebagai apa. Bertubi tubi Iryan lontarkan pernyataan dari kata “mengapa” menjadi “siapa”
Aku menahan nafas. Seseorang, aku harap. Seseorang, kuharap menghentikan semua ini. Aku ingin ini berakhir!
Dan saat itu, terdengar suara rendah seseorang berbunyi diantara kami. Aku menatap dengan tidak percaya.
“Menurutku itu bagus, mereka ga salah salah juga Yan.” Jean berdiri tegak sambil manggut. Tanpa perasaan dongkol, yang entah dia menyembunyikanya atau bagaimana.
Bisik-bisik kecil terdengar diantara para adik kelas kami.
Semudah itukah ia berkata?
“Lho? Emangnya kenapa? Menurutku dengan begitu klub akan lebih kondusif. Kalian juga pasti mikirin hal yang sama kan, sebenernya?” Jean berkata.
“Kalian sendiri pasti ngerasa itu bener, kan? Iryan memang kerja sendirian.”
“Stop, Jean!”
Ini sama sekali ngga menyelesaikan masalah
Iryan mulai mendingin dan saat berbalik melihat sekitar, Iryan mendapati seorang tengah keluar lewat pintu. Itu Riza, adik kelasnya, ia pergi begitu saja dari ruangan itu.
“Riza mau kemana?” Tanya Iryan melembut.
“Cari udara segar!” jawab Riza meninggi
            Iryan berpikir mungkin ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. Kenapa dari semua adik kelasnya hanya ia saja yang pergi. Apakah benar ada yang disembunyikan atau jangan jangan semua perubahan ini adalah rencananya? Iryan tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
Iryan berfikir, ia menyatukan poin poinnya. Mungkin inikah yang dinamakan kudeta implisit sebagai inisiatif. Sepertinya adik kelasnya takut kalau kaderisasi tidak bekerja dengan baik melihat Iryan yang bekerja sendiri. Mungkin mereka semua sepakat masih menanti kaderisasi, dengan parameter mengetahui apa saja yang akan mereka pegang pada saat memegang klub. Mungkin mereka tidak melakukan secara eksplisit bernama 'kudeta' karena masih respek dengan prospek kakak kelas ke depan. Penuh dengan semangkuk kata mungkin disini. Perlu ada bumbu kepastian agar semuanya terasa sedap. Semua kemungkinan ini adalah bagian dari tanggung jawab Iryan.
***
            Beberapa hari setelah presentasi itu sempat ada konflik yang terjadi antara Iryan dan Riza. Bahkan kejadian itu pun sempat tersebar di media sosial. Kejadian itupun bahkan membuat emosi beberapa para kakak kelas naik. Iryan pun tampak ikut kesal
 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ***  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . .  .
Hari demi hari berlalu, kejadian pun berlalu. Sampai saat yang ditunggu-tunggu adik kelasnya tiba. Serah terima jabatan. Ketua yang selanjutnya memang Ikki. Iryan merasa senang. Tugas dan tanggung jawabnya di klub ini telah selesai. Iryan dan teman-teman seangkatannya pun lengser. Adik adik kelasnya sangat berterimakasih pada semua kakak kelasnya terutama Iryan yang membekali mereka dengan bekal bekal yang menakjubkan walau kadang ada konflik diantaranya.
Semua berbalik ke belakang membelakangi dan mulai melangkah ke depan menuju masa depan yang lebih baik. Mari kita percayakan pada masa depan.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .*** . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . .Sudah 3 bulan peristiwa itu berlalu. Sekarang Iryan sudah turun jabatan secara resmi.Tanggung jawabnya usai sudah. Ketua klub yang sekarang telah diserahkan pada adik kelasnya. Sebelum Iryan meniup lilin berbentuk 18, Ia berharap semua masih baik baik saja.
“Apakah semua baik baik saja? ya.. kuharap begitu. Aku yakin”
            Di hari itupun Clyra datang pada perayaan Iryan ke 18 nya
            “Selamat ulang tahun ke 18 Yan...Maafin gue ya...” ucap Clyra
            Iryan pun berjalan menghampiri Clyra sambil menyebutkan namanya dengan penuh rasa kerinduan.
“Clyra...”
***
Diantara musim kemarau dan hujan serta disaat sinar mentari hanya tampak sedikit, Clyra menemukan seorang lelaki menghampiriku, ia berdiri disebelahku sambil menatap langit penuh awan, seperti memikirkan sesuatu.
“Hai, apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.
“Hanya menemanimu” jawabnya singkat.
Itu terjadi hampir setahun yang lalu. Dan hari ini...   
Ucapkanlah harapanmu Iryan, silahkan tiup lilinmu, matikan semuanya. Maaf bila selama ini selalu merepotkanmu. Percayalah semua usaha kerasmu itu tak akan mengkhianati. Semua bagai bunga yang mekar secara perlahan dan ketika harapanmu itu mencapai langit cerah. Semoga suatu hari nanti harapanmu terkabul.
Ini kepingan kecil hadiahku untukmu, Yan.

-Tamat-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mulai ngeblog lagi deh...

Setelah sekian lama gatau kenapa jadi pengen ngeblog lagi, bosen sih sosmed mulu. Males buat nulis panjang dan nyeritain banyak hal di sosmed, gak kaya di blog. Yaaa... entah kenapa kalo di blog lebih luas aja dan mungkin aku jadi semangat ngeblog gara gara abis liatin blog orang lain juga hehehe. Sekian~ Tunggu postingan terbaru dari bawah langit selanjutnya yaaa... Semoga bikin enigma untuk kalian.

CERPEN: Sashilea (Part 1- Masa Putih Abu)

Aku bingung antara pilih hidup yang penuh warna atau bahagia. Bila penuh warna, aku takut itu hanya sementara dan akan ada saat abu abu atau gelap Tapi bila aku bahagia, hidupku belum tentu akan penuh warna. Jadi... Aku bingung antara hidup penuh warna bersama orang yang aku suka  atau bahagia bersama orang yang memberi perhatian lebih padaku. PROLOG Namaku Sashilea. Aku hanyalah seorang gadis yang biasa saja, tidak memiliki keunikan . Biasa dipanggil Sashi. Menurut orang hidupnya damai dan teduh. Kecuali... Kisah cintanya, yang ingin diceritakan isi hatinya. ARIQ Ariq, ya... itulah namanya. Nama yang selalu dirindukan Sashi di masa putih abu. Sashi mengenalnya karena ia pernah sekelas dengan Ariq dan bahkan dekat dengannya karena mereka sering pulang bersama. Hal yang paling Sashi sukai adalah ketika Sashi diantar pulang oleh Sashi dengan motornya. Walaupun jarak rumah mereka terpaut jauh, namun Ariq mengantarkan Sashi setiap hari. Sampai benih ci...

My decision

Saat itu... kami menjadi teman dekat kami selalu pulang bersama walaupun dia hanya sampai seperdelapan jalan tapi aku senang bisa pulang bersamanya dia pun mulai memanggilku dengan panggilan baru " Ia " itulah panggilanku darinya ntah kenapa aku begitu senang mendapat panggilan itu walaupun aku tau itu panggilan saat aku kecil. Di kelas kami kadang menonton anime bersama kami pun selalu jadi teman satu kelompok. Dia selalu menungguku dengan sepenuh hati walaupun aku tak minta Dia selalu mendengarkan masalah apapun yang menimpaku di kelas aku berfikir aku ingin selalu bersamanya,aku nyaman dengannya sampai satu hari aku memutuskan ..... aku menyukainya

SHARING: Menjadi Local Volunteer (di Malala Project)

Aku pengen sharing tentang pengalamanku menjadi Local Volunteer di Malala Project AIESEC Bandung setelah banyak pertanyaan yang masuk kayak. "Kok bisa sih bareng bareng bule?" "Kok bisa sih ikut projek itu?Bareng bareng orang luar negeri. Gimana caranya?". Naah... karena itu, jadi kuingin sharing aja pengalaman pengalamanku disini. Check it out~ Apa itu AIESEC? AIESEC adalah organisasi pemuda internasional, non political, non profit dan independen yang telah berada di 126 negara dengan fokus pengembangan potensi kepemimpinan anak muda baik melalui pengalaman organisasi maupun dalam memberikan pengalaman sukarelawan (Volunteering) dan magang ke luar negeri. Di Indonesia, ada banyak cabang AIESEC. Nah, karena aku di Bandung, jadi project yang aku ikuti diadakan oleh AIESEC Bandung. Kece banget kaan~ Next! Apa itu  Malala Project ? Malala Project itu salahsatu Project yang diadakan oleh AIESEC Bandung. Beberapa Project yang diadain sama AIESEC Bandung: -...

my first english creation

Tour to Dufan             Two weeks ago,my sister,my family and I went to Dufan.I went from my house at 5.30 a.m to a Industry area because that are became a stopped place tour bus. We went to dufan by tour bus.There was 20 busses. I got sit on Bus no 10 and I sat in 15 th chair with my cousin.             First our tripped, We entered to Cileunyi toll, give breakfast than we rest in Rest Area KM 97. We were continued our trip. We arrived in Sea World at 9.45 a.m. We ran to 4 Dimension place for watched film of 4D cause it was my first purpose. I wasn’t calm because in advertisement there was a instresting film about adventure of turtle,but the film played, that was Dora the explorer, mmm…. My cousin and I was so dissappointed. This film played about 9 minutes. After that, we took a picture,see dolphin action and went to mosque to middle prayer.     ...

MOMENT: Malala Project Winter

Jadi aku pengen berbagi moment aku setahun yang lalu di Januari 2018. Jadi tepat setahun yang lalu, aku jadi Local Volunteer  di Malala Project Winter AIESEC Bandung. Malala Project Winter Participant Nah aku pengen kenalin nih dari Exchange Participannya dulu (Baca: Bule bulenya) Milena Ribeiro (Brazil) Milena Ribeiro, biasa dipanggil Mi. Perempuan cantik asal kota Amparo, Sao Pulo, Brazil. Milena belum pernah ke luar negeri sebelumnya. Ini merupakan pengalaman pertamanya ke luar negeri, dia harus melewati banyak negara untuk menuju Indonesia. Milena tidak terlalu lancar berbahasa inggris, tapi menurutku jadinya enak sih saat mengobrol denganku yang tak terlalu lancar juga. Setidaknya dengan bahasa inggris, kami masih bisa berbagi tertawa bersama. Teringat aku saat Milena tiba di Indonesia, Aku yang merupakan local volunteernya Milena, cukup khawatir sejak tengah malam karena inggris Milena yang tak begitu lancar dan ia akan tiba di Jakarta pukul 1 dini hari, tapi t...

Terjebak Dalam Bingkai Matematika dan Fisika

Hari ini, aku pulang sendiri kunaiki angkot kuning itu, dan kuputar lagu lewat headsetku aku pun tertidur, tapi masih bisa mendengar lagu apa yang sedang diputar terdengar suatu lagu soundtrack anime Angel Beats Ichiban No Takaramono (Yui version) yang artinya hartaku yang berharga sekejap lagu itu membuatku ingat sesuatu bingkai matematika.... iya... bingkai itu yang biasanya menemaniku pulang tapi tidak hari ini. Aku ingat saat pertama kali kutemukan bingkai itu di suatu kelas Aku ingat saat pertama kali bingkai itu memanggilku dengan panggilan baru Aku ingat saat pertama kali aku menamparnya dalam drama Aku ingat saat pertama kali aku kagum dengannya Aku ingat saat pertama kali aku kecewa olehnya Tapi aku tak ingat kapan pertama kali aku mulai memikirkannya

Cerita Tentang Kouhaiku

Aku ingin menceritakan cerita singkat yang terjadi saat aku kelas 2 SMA, saat itu merupakan tahun pertamaku menjadi seorang senpai (kakak kelas). Ya... aku senang akhirnya menjadi senpai dan memiliki kouhai (adik kelas). Pada satu waktu, aku seperti biasa bercengkrama di ruang eskul, menghabiskan waktu disana. beberapa jam berlalu sampai kebetulan juga saat itu hanya ada aku dan kouhaiku saja, Rifqi. Kami pun mengobrol dengan serunya sebagaimana senpai dan kouhai. Hari mulai senja, kami memutuskan untuk pulang. Saat itu, ketika aku tengah mengunci ruang eskul, tiba tiba saja kouhaiku berkata kepadaku "Senpai...daisuki"  Sejenak aku terdiam dan refleks ku menjawab. "Mm, arigatou" sambil tersenyum. Saat itu yang kupikirkan adalah kouhaiku menyukaiku hanya sebagai senpainya, tidak lebih. Setelah itu, kami pun berjalan menuju gerbang sekolah dan pulang menuju rumah masing masing. Sekarang aku teringat lagi hal itu dan mulai berpikir tentang apa yang kouhai...

Maafkan aku... Musim hujan

Aku senang musim hujan kembali (padahal tahun kemarin aku begitu membencinya) Tahun ini berbeda Tahun ini jadi lebih baik dari tahun sebelumnya Aku senang kau datang, hujan... Tapi, maafkan aku... Angin dingin dan air yang kau jatuhkan ini bukan yang sebenarnya aku tunggu Maafkan aku musim hujan, Aku menantimu bukan karena aku suka rintik hujan yang kau miliki, tapi aku menantimu karena aku suka satu momen saat kau turun. Momen berjalan dibawah satu payung... bersamanya...             Begitu hangat dan bahagia                                                                                                       sumber gambar: arazzahraaa.deviantart.com Terimakasih hujan... Akhirnya aku...