-Saatnya pulang- “Lif, pulang yuk..” ajak Lia “Hayu...” jawab Alif sambil menutup laptopnya yang sedari tadi asyik ia mainkan. Kemudian ia pun memakai tasnya dan beranjak dari tempat duduknya. Tapi ia tidak langsung pulang, malah memulai percakapan baru dengan beberapa anak pramuka. Lia pun terpaksa harus menunggu Alif selama kurang lebih setengah jam. Di tempat Alif mengobrol dengan teman teman pramukanya, Lia menemukan sebuah tali yang cukup panjang berwarna biru dengan sedikit corak pink dan kuning. Lia pun memainkannya untuk menghilangkan kebosanannya menunggu Alif. “Ia, yuk pulang” ajak Alif. “Eh iya iya” jawab Lia kaget Lia dan Alif pun pulang bersama. Lia pulang sambil membawa tali biru yang ditemukannya tadi. Lia berfikir mungkin akan bagus apabila Lia meminta Alif membuatkan Lia sebuah gelang. Tapi pasti itu mustahil. Mungkin ada cara lain~
-Hari kedua ini mungkin hari terakhirku untuk pulang bersamanya- Entah apa yang Lia pikirkan tentang hari ini, pokoknya ia harus memiliki kesan yang bagus dengan Alif. Lia pun bersiap siap dengan memakai baju vintage -nya yang ia pinjam dari adik perempuannya. “Yu.. teteh pinjam baju, yaa!!!” teriak Lia pada adiknya. Setelah sarapan, Lia pun berangkat dengan harapan hari ini adalah hari yang mengesankan untuknya. Lia pun sempat meminta Alif untuk pulang bersama sebelumnya. Awalnya Alif berkata ia tidak bisa pulang bersama Lia karena Alif akan pergi ke sekolah menggunakan sepeda. Tapi akhirnya Alif pun memenuhi keinginan Lia. “Kenapa Alif jadi baik seperti ini ya? Jangan jangan hari ini memang hari terakhirku pulang bersamanya? Ah sudahlah, syukur-syukur Alif mau pulang bersamaku” gumam Lia.
Hari ini adalah hari festival sekolah, festival ini hanya ada setahun sekali dan berlangsung selama dua hari. Sayangnya satu hari sebelum festival sekolah dimulai, Lia tidak bisa datang untuk ikut membantu menyiapkan stand kelasnya, karena ia lebih memilih untuk menghadiri acara perpasahan adiknya di TK. Sebenarnya Lia sangat sedih tidak bisa membantu menyiapkan stand kelasnya sendiri, tp Lia akan lebih sedih apabila ia tidak menghadiri perpisahan adiknya yang hanya berlangsung satu kali seumur hidup. Hari pertama festival sekolah dimulai pukul 8. Lia pun datang lebih pagi seperti biasanya, ia datang pukul 7 dan langsung mencari dimana stand -nya yang ia tahu stand kelasnya itu mendapat tema vintage . Akhirnya ia pun menemukan stand kelasnya. inilah stand kelas Lia yang bertema vintage ...
Saat itu... kami menjadi teman dekat kami selalu pulang bersama walaupun dia hanya sampai seperdelapan jalan tapi aku senang bisa pulang bersamanya dia pun mulai memanggilku dengan panggilan baru " Ia " itulah panggilanku darinya ntah kenapa aku begitu senang mendapat panggilan itu walaupun aku tau itu panggilan saat aku kecil. Di kelas kami kadang menonton anime bersama kami pun selalu jadi teman satu kelompok. Dia selalu menungguku dengan sepenuh hati walaupun aku tak minta Dia selalu mendengarkan masalah apapun yang menimpaku di kelas aku berfikir aku ingin selalu bersamanya,aku nyaman dengannya sampai satu hari aku memutuskan ..... aku menyukainya
Aku mengirimkan pesan singkat kepadanya "eh km dimana?" "aku pulang dulu ke rumah emang kenapa?" "kenapa kamu pulang?? balik lagi ke sekolah ga?" "mungkin.tergantung" "pokoknya kamu harus dateng" "emang kenapa? butuh banget kehadiran aku?" Aku pun tak membalasnya. Aku takut aku semakin gugup. Tidak ada seorangpun yang dapat menenangkanku bahkan ibuku sendiri. Semua teman temanku gugup menunggu hasil. Hanya satu orang... ya... dialah orang itu
Hari ini, aku pulang sendiri kunaiki angkot kuning itu, dan kuputar lagu lewat headsetku aku pun tertidur, tapi masih bisa mendengar lagu apa yang sedang diputar terdengar suatu lagu soundtrack anime Angel Beats Ichiban No Takaramono (Yui version) yang artinya hartaku yang berharga sekejap lagu itu membuatku ingat sesuatu bingkai matematika.... iya... bingkai itu yang biasanya menemaniku pulang tapi tidak hari ini. Aku ingat saat pertama kali kutemukan bingkai itu di suatu kelas Aku ingat saat pertama kali bingkai itu memanggilku dengan panggilan baru Aku ingat saat pertama kali aku menamparnya dalam drama Aku ingat saat pertama kali aku kagum dengannya Aku ingat saat pertama kali aku kecewa olehnya Tapi aku tak ingat kapan pertama kali aku mulai memikirkannya