-Saatnya
pulang-
“Lif, pulang yuk..” ajak Lia
“Hayu...” jawab Alif sambil
menutup laptopnya yang sedari tadi asyik ia mainkan. Kemudian ia pun memakai tasnya
dan beranjak dari tempat duduknya. Tapi ia tidak langsung pulang, malah memulai
percakapan baru dengan beberapa anak pramuka. Lia pun terpaksa harus menunggu Alif
selama kurang lebih setengah jam. Di
tempat Alif mengobrol dengan teman teman pramukanya, Lia menemukan sebuah tali
yang cukup panjang berwarna biru dengan sedikit corak pink dan kuning. Lia pun
memainkannya untuk menghilangkan kebosanannya menunggu Alif.
“Ia, yuk pulang” ajak Alif.
“Eh iya iya” jawab Lia kaget
Lia dan Alif pun pulang bersama.
Lia pulang sambil membawa tali biru yang ditemukannya tadi. Lia berfikir
mungkin akan bagus apabila Lia meminta Alif membuatkan Lia sebuah gelang. Tapi
pasti itu mustahil. Mungkin ada cara lain~
“Lif gimana sih cara bikin simpul kepang kepang yang pernah kamu bikin waktu itu, kata Gabby, Grandpa Alif yang bikin simpul itu” tanya Lia tiba tiba
“Ya.. pokoknya kamu pegang ujung
kanan, bikin bulet, masukin yang kiri terus tarik” jawab Alif
“Haa?? Gimana?” tanya Lia
kebingungan
“Sini aku contohin” jawab Alif
sambil merebut tali yang Lia pegang.
Lia pun melihat cara Alif membuat
simpul itu. Awalnya Lia tidak bisa membuatnya, ia terus saja gagal, karena
simpul itu tidak mengikat, beberapa kali Lia coba tetapi tetap saja gagal.
“Bisa?” tanya Alif
“Ngga..” jawab Lia dengan
lancarnya
“Hee.. kenapa gabisa?? Apanya
yang gabisa?” jawab Alif heran
“Itu tiap aku masukin sisi yang
satu pasti ga ngiket dan selalu lepas, ntar ntar aku coba lagi” jawab Lia
tiidak menyerah. Alif pun berjalan di depan tidak jauh dari Lia.
“Yeee!! Lif bisa Lif, bisa hehehe”
seru Lia tiba tiba.
Alif masih tetap berjalan, tak
berhenti sedikitpun. Lia pun berjalan sedikit cepat menghampiri Alif dan
berjalan sejajar dengannya.
“Lif.. liat aku dah bisa. Bikin
gelang yu..” Tanya Lia mengajak dengan raut gembira.
“Tuh bisa” jawab Alif sambil
memegang sisi tali yang satunya. Lia di sebelah kanan dan Alif di sebelah kiri.
Mereka terus berjalan beriringan dan berbincang sambil menunggu angkot Panghegar- Dipatiukur tiba.
Sudah sejak lama Lia dan Alif
tidak pernah seakrab ini lagi. Lia terus menyimpul tali biru itu demikian pula
dengan Alif. Di angkot pun mereka terus menyimpul tali itu sembari tertawa bersama.
“Yap, punya aku udah jadi. Ada
gunting ga?” tanya Alif.
Lia hanya menggeleng tanda 'tidak punya gunting' sambil tidak percaya
betapa cepatnya Alif menyimpul tali biru itu.
“Oh iya kalo ga salah aku pernah
nyimpen gunting di tas, punya kamu bukan” tanya Alif sambil mengeluarkan
gunting dari tasnya.
“Gunting aku gapernah ketinggalan
Lif ” jawab Lia sambil menyimpul tali tersebut
“Oh berarti bukan punya kamu”
jawab Alif sambil memotong talinya dan menjadikannya gelang. Alif pun memakai
gelang yang ia buat sendiri.
“Aku juga dah beres. Lif, gimana
ngejadiin gelangnya?” tanya Lia
“Sini aku jadiin gelang” jawab
Alif.
Alif pun memotong tali Lia dan
menjadikannya gelang. Setelah Alif selesai, Alif pun memberikan gelang tersebut
kepada Lia. Lia pun memakai gelang yang ia buat. Lia tahu gelang yang Lia buat
itu terlalu besar untuknya, akan tetapi Lia diam saja karena Lia tidak mau
merusak hasil kerja Alif terhadap gelangnya. Alif pun melihat betapa besarnya
gelang yang Lia buat di tangan Lia sendiri.
“Kegedean ya? mau aku kecilin?”
tanya Alif.
Lia pun bingung untuk menjawab
apa. Sebentar lagi Alif akan turun di tempat biasanya di Jl. Veteran. Lia pun
menganggukan kepalanya pertanda setuju, Lia pun melepas gelang yang telah ia
pakai dan memberikannya kepada Alif untuk dikecilkan. Alif pun mulai
mengecilkan gelang Lia.
“Ia, mana tangan kamu, maaf ya”
Alif pun mencobakannya pada tangan Lia.
“oh masih kegedean” katanya. Alif
pun mengecilkan gelang Lia lagi.
“Sini tangan kamu” kata Alif
sambil mencobakannya lagi di tangan Lia, tetapi masih tetap kegedean.
“Tangan kamu kecil banget!” kata
Alif sedikit kesal karena masih tetap kegedean.
Tapi Alif tidak menyerah, ia terus mengecilkan gelang Lia sampai gelang
tersebut cocok di tangan Lia. Lia pun kaget karena Alif tidak turun di tempat
biasanya.
“Loh Lif ga turun?kamu turun
dimana? Dah kelewat loh” tanya Lia sedikit panik.
“Aku ga turun disini ko, mau
beli SKU dulu” jawab Alif.
Hari ini Alif turun lebih jauh
dari biasanya, jadi Lia memiliki banyak waktu untuk bercakap cakap dengan Alif
dengan memulai pertanyaan garing sampai pertanyaan serius.
“Lif kira kira, kalo kita ga
sekelas. Kita masih bisa pulang bareng gak ya?” tanya Lia sambil melihat jalan.
Alif pun menoreh ke arah Lia lalu memalingkan mukanya ke arah jalanan “Kalo kamu mau pulang bareng, datengin aja aku ke web ato ke depan IPA 3” jawab Alif
santai.
“Iya.. tapi kayanya itu bakal
susah. Bener ya Lif.. kalo aku ajak pulang, kamu harus mau” tanya Lia, walaupun
Lia tahu mungkin itu tidak akan mungkin dilakuannya.
“iya iya” jawab alif seperti tak
acuh.
Alif pun turun di Kosambi dekat
rel kereta api. Saat alif turun Lia pun tiba tiba meneriakkan sesuatu kepada
Alif.
“Lif, gelangnya pake terus yaa!!!”
teriak Lia.
“Apa?” teriak Alif.
"Gelang!!" teriak Lia
"Apa?" teriak Alif
Angkot langsung berjalan cepat,
Lia pun hanya bisa menunjukkan gelangnya kepada Alif lewat jendela angkot tanpa tahu apa jawaban
Alif.
![]() |
| Arigatou(terimakasih) Alif |
Akankah Alif masih memakai gelang yang dibuat bersama Lia? Lia akan selalu berharap agar Alif selalu memakainya.
| Gelang yang Lia buat dengan Alif. |
“Aku masih memakai gelang yang
kita buat. Apakah kau masih memakainya juga Lif?”
-Tamat-

omaIgat omaigat the truth hurts
BalasHapus